Budaya Feodal di Pesantren: Ketika Adab Dijadikan Alasan untuk Membungkam Santri

 

TIE.Newss - JAKARTA, Beberapa waktu lalu, tayangan Xpose Uncensored Trans7 tentang Pondok Pesantren Lirboyo menuai kritik keras. Liputan itu menyorot tradisi ta’dzim, penghormatan santri terhadap kiai dengan berjalan jongkok dan membantu pekerjaan rumah kiai, serta menyinggung soal kekayaan para kiai. Alih-alih di balik klaim “investigatif” atau semata membuat konten siaran, liputan trans7 itu justru tampak mengonstruksi citra pesantren sebagai lembaga feodal dan otoriter. Di media sosial pun, cuplikan video tersebut tak luput menyulut komentar bernada sinis: “Feodal”, “Kiai eksploitatif”, “Santri jadi pembantu gratis”. Disamping itu kaum santri pun dari mulai alumni maupun santri pondok pesantren secara umum menyerukan gerakan boikot trans 7 yang menjadi trending di berbagai platform. Narasi serupa sebenarnya kembali mencuat pasca tragedi ambruknya Pondok Pesantren Al-Khozini di Pasuruan. Ketika proses hukum bergulir, publik digital mulai “menguliti” tradisi pesantren: gotong royong membangun gedung, membantu di rumah kiai (ro’an ndalem), hingga berbagai bentuk pengabdian dianggap sebagai “kerja rodi” terselubung. Pertanyaannya, apakah pesantren memang feodal dan menindas, atau justru kita yang sedang terjebak dalam mitos modern yang diciptakan oleh media dan algoritma? Untuk membaca trik semacam ini, kita dapat menggunakan pisau analisis semiotika Roland Barthes, yang menafsirkan bagaimana tanda (sign) bekerja bukan hanya secara literal, tetapi juga ideologis. Barthes membagi makna dalam tiga lapis: Denotasi: makna langsung dari tanda, Konotasi: makna kultural yang melekat dan Mitos: ideologi yang dibuat tampak “alami”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isu Redenominasi Lagi-lagi Mencuat : Rupiah Bakal di Pangkas Menjadi Rp 1

Gen Z Nepal Menantang Politik "Usang"